Kenapa Orang Miskin Sering Terasa Diusir dari Mana-Mana?
Ketika Kemiskinan Dianggap Mengganggu Pemandangan
Pernah melihat seseorang dengan pakaian lusuh duduk sebentar di sudut pusat perbelanjaan, lalu tidak lama kemudian diminta pergi? Di kursi yang sama, orang dengan pakaian rapi bisa duduk berjam-jam sambil membuka laptop, membeli kopi, dan keberadaannya dianggap bagian normal dari aktivitas tempat tersebut. Secara aturan, mungkin persoalannya bukan soal kaya atau miskin; bisa saja karena tempat itu memang memiliki ketentuan penggunaan ruang. Tetapi kalau pola seperti ini terus berulang, muncul pertanyaan yang lebih besar: kenapa orang yang terlihat miskin sering terasa lebih mudah dianggap “tidak pada tempatnya”?
Kemiskinan bukan cuma persoalan saldo rekening. Ia juga bisa memengaruhi bagaimana seseorang dipandang, ruang mana yang terasa terbuka baginya, dan bagaimana sebuah kota menentukan perilaku apa yang dianggap pantas. Penelitian mengenai hostile design menunjukkan bahwa desain ruang publik tertentu dapat membatasi perilaku kelompok rentan, termasuk orang yang mengalami tunawisma.
Tentu, tidak semua larangan menggunakan ruang publik merupakan diskriminasi. Taman, mal, stasiun, dan trotoar memang membutuhkan aturan agar dapat digunakan bersama. Masalahnya muncul ketika ketertiban berubah menjadi mekanisme yang secara sistematis membuat kelompok tertentu kehilangan akses terhadap ruang yang sebenarnya mereka butuhkan.
Dan di situlah ceritanya menjadi lebih menarik. Karena kadang yang ingin kita singkirkan dari kota bukan cuma perilaku yang mengganggu, tetapi juga pemandangan kemiskinan itu sendiri.

Ketika Penampilan Menentukan Siapa yang Dianggap Pantas Berada di Suatu Tempat
Bayangkan dua orang duduk di sebuah tempat umum. Orang pertama memakai kemeja, membawa laptop, dan memegang gelas kopi. Orang kedua memakai pakaian lusuh, membawa tas plastik, dan terlihat sedang beristirahat. Kalau keduanya melakukan hal yang sama duduk tenang tanpa mengganggu siapa pun secara logika perilakunya tidak berbeda jauh. Tetapi persepsi sosial terhadap keduanya bisa sangat berbeda karena manusia tidak hanya membaca perilaku; kita juga membaca simbol status.
Pakaian, barang yang dibawa, cara berbicara, bahkan kemampuan membeli sesuatu dapat menjadi sinyal sosial. Di ruang komersial, status sebagai pelanggan juga memberikan legitimasi yang sangat jelas: seseorang membeli makanan, menyewa tempat, atau menggunakan layanan sehingga keberadaannya mudah dipahami dalam logika bisnis. Sebaliknya, seseorang yang hanya duduk tanpa transaksi bisa dianggap tidak memiliki alasan ekonomi untuk berada di sana, meskipun secara fisik ia tidak melakukan pelanggaran.
Ini bukan berarti setiap petugas yang meminta seseorang pergi sedang melakukan diskriminasi. Ada aturan penggunaan fasilitas, keamanan, privasi pelanggan, dan berbagai pertimbangan lain yang memang sah. Tetapi penelitian tentang hostile design menunjukkan bahwa konfigurasi ruang dapat memiliki efek yang berbeda terhadap kelompok tertentu, termasuk orang yang tidak memiliki rumah.
Masalahnya menjadi serius ketika seseorang mulai dianggap mengganggu hanya karena terlihat miskin, bukan karena melakukan perilaku yang memang mengganggu. Pada titik itu, ruang publik tidak lagi sekadar mengatur perilaku. Ia mulai memilah siapa yang dianggap pantas terlihat.
Dan ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam: apakah kota benar-benar terbuka untuk semua orang, atau sebenarnya hanya terbuka bagi mereka yang memenuhi standar tertentu?
Ada yang Namanya Arsitektur yang Membuat Orang Tidak Betah
Pernah melihat bangku taman dengan pembatas di tengah? Atau permukaan tertentu yang dibuat miring sehingga sulit digunakan untuk berbaring? Dalam studi perkotaan, desain semacam ini sering dibahas dengan istilah hostile architecture, hostile design, atau defensive architecture. Secara umum, konsep tersebut merujuk pada penggunaan elemen fisik untuk membatasi akses atau mengarahkan perilaku tertentu di ruang publik.
Pendukung desain seperti ini bisa saja memiliki alasan yang berbeda-beda. Sebuah bangku mungkin diberi pembatas agar tidak digunakan untuk tidur, agar area tetap mudah dilewati, atau karena pertimbangan pemeliharaan. Jadi, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap desain seperti itu otomatis dibuat dengan niat memusuhi orang miskin. Bahkan literatur akademik sendiri menunjukkan bahwa definisi hostile design memiliki perdebatan mengenai apakah unsur niat harus selalu ada atau apakah dampak terhadap kelompok tertentu juga cukup diperhitungkan.
Tetapi dampaknya tetap layak dibicarakan. Jika seseorang tidak punya rumah, bangku yang tidak bisa dipakai berbaring bukan sekadar desain furnitur. Ia bisa berarti satu tempat lebih sedikit untuk beristirahat. Penelitian konseptual mengenai dampak hostile architecture terhadap kesehatan tunawisma memperkirakan bahwa pengusiran atau perpindahan ke ruang lain dapat membawa risiko kesehatan dan sosial baru.
Dalam studi etnografis terbaru di Washington, D.C., orang yang mengalami tunawisma juga melaporkan bahwa lingkungan yang dirancang untuk membatasi keberadaan mereka dapat menghambat akses terhadap dukungan, membatasi aktivitas sehari-hari, serta mengganggu jaringan sosial.
Jadi desain kota ternyata bukan cuma soal estetika. Sebuah bangku bisa menjadi sekadar bangku bagi satu orang, tetapi menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi orang lain.
Kenapa Kemiskinan Kadang Membuat Orang Tidak Nyaman Melihatnya?
Ada fenomena psikologis menarik ketika masyarakat berhadapan dengan kemiskinan. Banyak orang ingin percaya bahwa dunia memiliki hubungan yang masuk akal antara usaha dan hasil: orang rajin akan mendapatkan hasil baik, sementara orang yang malas akan mendapatkan hasil buruk. Keyakinan seperti ini dikenal dalam psikologi sebagai belief in a just world, atau keyakinan bahwa dunia pada dasarnya adil dan manusia mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan.
Masalah muncul ketika realitas tidak cocok dengan keyakinan tersebut. Kita melihat seseorang bekerja keras tetapi tetap miskin. Kita melihat keluarga yang tiba-tiba jatuh miskin karena sakit. Kita melihat seseorang kehilangan rumah bukan karena tidak mau bekerja, tetapi karena kombinasi utang, pengangguran, biaya hidup, atau keadaan lain. Situasi seperti itu membuat penjelasan sederhana “orang miskin berarti malas” menjadi tidak cukup.
Penelitian mengenai sikap terhadap kemiskinan menunjukkan adanya hubungan antara cara seseorang menjelaskan penyebab kemiskinan dan sikapnya terhadap orang miskin. Dalam studi Cozzarelli dan kolega, peserta cenderung memberikan penjelasan yang menyalahkan individu dalam beberapa kondisi, sementara sikap dan atribusi tersebut berbeda berdasarkan keyakinan sosial dan demografis.
Penelitian lain juga menemukan hubungan antara just-world beliefs dan sikap negatif terhadap orang miskin, meskipun penelitian tentang mekanisme ini tidak selalu menghasilkan pola yang identik.
Ini bukan berarti setiap orang yang merasa terganggu oleh kemiskinan sedang melakukan victim blaming. Tidak sesederhana itu. Tetapi teori ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang lebih nyaman mempercayai bahwa “orang miskin pasti melakukan sesuatu yang salah” daripada menerima kenyataan bahwa ekonomi, kesempatan, kesehatan, keluarga, lokasi, dan nasib dapat berinteraksi secara kompleks.
Kadang kita tidak sedang membenci orang miskin. Kita hanya sedang berusaha membuat dunia terasa lebih sederhana daripada kenyataannya.
Kota Bisa Terlihat Rapi Tanpa Berarti Masalah Kemiskinannya Selesai
Ada cara yang sangat cepat untuk membuat kota terlihat lebih bersih: pindahkan sesuatu yang terlihat berantakan dari pandangan. Orang tidur di trotoar? Dipindahkan. Pedagang informal memenuhi area tertentu? Ditertibkan. Orang berkumpul di ruang yang dianggap mengganggu citra kawasan? Dibubarkan. Dalam hitungan jam, foto kota mungkin terlihat jauh lebih rapi.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting: masalahnya benar-benar selesai atau hanya berpindah lokasi?
Penelitian mengenai penggusuran atau sweeps terhadap orang tanpa tempat tinggal memberikan alasan untuk berhati-hati. Studi longitudinal 2026 di Los Angeles County terhadap 731 orang yang mengalami tunawisma menemukan bahwa pengalaman interaksi dengan polisi dan sweeps berkaitan dengan kesehatan fisik yang lebih buruk dan tekanan psikologis yang lebih tinggi, dengan perpindahan lokasi menjadi salah satu mekanisme yang menjelaskan sebagian hubungan tersebut.
Studi di Denver juga menemukan bahwa perpindahan paksa berkaitan dengan perubahan kriminalitas yang terbatas dan sangat lokal, sementara tidak ditemukan perubahan konsisten pada tingkat area yang lebih luas. Para peneliti menekankan bahwa bukti mengenai efektivitas displacement dalam mengurangi kejahatan masih campuran.
Ini tidak berarti ketertiban ruang publik tidak penting. Trotoar memang harus bisa digunakan pejalan kaki. Kawasan publik memang membutuhkan kebersihan dan keamanan. Pedagang juga perlu mengikuti aturan yang berlaku. Tetapi kalau pendekatannya hanya memindahkan orang tanpa memperbaiki persoalan tempat tinggal, pekerjaan, layanan sosial, atau akses bantuan, kota hanya mendapatkan ilusi penyelesaian.
Kemiskinan tidak hilang karena kamera tidak lagi menangkapnya. Orangnya hanya pindah ke sudut kota yang berbeda.
Ruang Publik Makin Lama Makin Mirip Ruang yang Harus Dibayar
Ada perubahan menarik dalam kehidupan kota modern. Banyak tempat yang dulu bisa digunakan secara gratis perlahan digantikan atau dilengkapi dengan ruang komersial: kafe, pusat perbelanjaan, restoran, coworking space, dan berbagai tempat lain yang aktivitas utamanya bergantung pada transaksi. Tentu saja, ruang-ruang tersebut punya hak untuk menentukan aturan karena bukan semuanya merupakan ruang publik dalam pengertian hukum atau kepemilikan. Tetapi ketika semakin banyak aktivitas sosial bergeser ke ruang yang membutuhkan konsumsi, orang dengan uang lebih sedikit memiliki pilihan yang lebih sempit.
Orang dengan uang bisa membeli satu gelas kopi lalu duduk selama beberapa jam. Ia mendapatkan kursi, udara dingin, Wi-Fi, toilet, dan lingkungan sosial yang nyaman. Orang tanpa uang mungkin hanya membutuhkan kursi yang sama untuk beristirahat. Perbedaannya bukan selalu pada perilaku. Perbedaannya adalah kemampuan membayar untuk mendapatkan legitimasi berada di ruang tersebut.
Karena itu, taman, perpustakaan, trotoar yang nyaman, ruang terbuka, fasilitas sanitasi, dan tempat istirahat publik punya fungsi sosial yang lebih besar daripada sekadar mempercantik kota. Ruang semacam itu menyediakan tempat bagi orang yang tidak memiliki rumah atau tidak mampu membayar konsumsi untuk tetap menjadi bagian dari kehidupan kota.
Literatur tentang defensive architecture menunjukkan bahwa desain ruang publik dapat membentuk siapa yang bisa menggunakan ruang tersebut, bagaimana mereka menggunakannya, dan perilaku apa yang dianggap diperbolehkan. Penelitian terbaru bahkan menggambarkan desain defensif sebagai salah satu cara ruang kota membentuk batas antara kelompok yang dianggap “di dalam” dan “di luar”.
Jadi pertanyaannya bukan apakah mal atau kafe harus gratis. Tentu tidak. Pertanyaannya adalah: kalau hampir semua tempat yang nyaman membutuhkan transaksi, di mana orang yang tidak punya uang cukup boleh sekadar menjadi manusia?
Kota yang Manusiawi Tidak Harus Membiarkan Kekacauan
Membicarakan kemiskinan tidak berarti kita harus menganggap semua perilaku dapat dibenarkan. Kota membutuhkan aturan. Trotoar harus bisa dilalui. Ruang publik harus aman. Fasilitas harus dirawat. Pedagang, pejalan kaki, pemilik usaha, penghuni kawasan, dan orang tanpa rumah semuanya memiliki kepentingan yang perlu dipertimbangkan. Kemanusiaan tidak berarti menghapus ketertiban.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana ketertiban tersebut dirancang. Apakah seseorang dipindahkan karena benar-benar melakukan tindakan yang mengganggu, atau karena penampilannya dianggap tidak cocok dengan citra tempat? Apakah sebuah bangku dibuat agar nyaman digunakan masyarakat, atau sengaja dibuat tidak bisa digunakan oleh kelompok tertentu? Apakah seseorang yang tidur di ruang publik hanya dipindahkan, atau ada pilihan tempat yang aman untuknya?
Pertanyaan seperti ini penting karena ruang kota bukan benda netral. Desain, aturan, dan pengelolaan ruang menentukan siapa yang bisa tinggal, duduk, berjalan, beristirahat, atau berkumpul. Penelitian tentang hostile design menunjukkan bahwa dampak desain tersebut dapat tidak proporsional terhadap kelompok yang mengalami tunawisma.
Kota yang baik bukan kota yang tidak pernah melihat kemiskinan. Kota yang baik adalah kota yang mampu menjaga ketertiban tanpa menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk menghilangkan manusia dari pandangan. Kalau ada orang tidur di trotoar, tentu perlu dicari solusi agar trotoar tetap berfungsi. Tetapi solusi jangka panjang bukan sekadar membuat trotoar tidak nyaman untuk tidur. Solusinya adalah memastikan orang tersebut memiliki pilihan lain yang lebih aman.
Pada akhirnya, ukuran sebuah kota tidak hanya terlihat dari gedung tinggi, jalan bersih, taman cantik, atau pusat perbelanjaan mewah. Ukurannya juga terlihat dari bagaimana kota memperlakukan orang yang tidak punya banyak uang.
Karena kota yang benar-benar maju bukan cuma kota yang berhasil menghilangkan pemandangan kemiskinan dari kamera. Ia adalah kota yang berhasil mengurangi alasan mengapa orang harus tidur di depan kamera itu sejak awal.
