Apakah Stoikisme Membuat Orang Lemah dan Mudah Ditindas?

Ternyata Justru Sebaliknya

Ada satu miskonsepsi yang cukup sering muncul ketika orang pertama kali mengenal Stoikisme: “Kalau semua harus diterima, bukankah berarti kita harus pasrah?” Dari luar memang kelihatannya begitu. Jangan marah, terima keadaan, jangan mengejar hal di luar kendali, jangan terlalu peduli terhadap penilaian orang lain kalau dipotong menjadi kalimat-kalimat pendek, Stoikisme memang bisa terdengar seperti manual menjadi manusia yang tidak melawan apa pun. Padahal, membaca Stoikisme hanya dari potongan quotes media sosial sama seperti memahami hukum hanya dari status WhatsApp. Kita kehilangan konteks, struktur pemikiran, dan tujuan sebenarnya.

Dalam Stoikisme, persoalannya bukan apakah manusia boleh bertindak, melainkan bagaimana manusia bertindak ketika berhadapan dengan keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Epictetus menekankan pentingnya membedakan apa yang berada dalam kendali kita dengan hal-hal eksternal, sementara tradisi Stoik menempatkan kebajikan dan penilaian rasional sebagai bagian penting dari kehidupan yang baik. Jadi, Stoik bukan manusia yang menyerah kepada keadaan. Ia justru dilatih agar tidak menyerahkan kendali atas dirinya kepada keadaan.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih menarik: apakah orang yang mampu mengendalikan respons justru lebih sulit dikendalikan oleh orang lain? Di sinilah Stoikisme mulai terlihat bukan sebagai filosofi kelemahan, melainkan filosofi tentang kemandirian batin. Tetapi tetap ada catatan: Stoikisme yang dipahami secara ekstrem dapat berubah menjadi pasivitas jika “menerima” disalahartikan sebagai “tidak perlu melakukan apa-apa”. Jadi, masalahnya bukan pada prinsip Stoikismenya saja, melainkan pada bagaimana prinsip tersebut dipahami dan dipraktikkan.

Apakah Stoikisme Membuat Orang Lemah dan Mudah Ditindas? Ternyata Justru Sebaliknya

Stoikisme Bukan Filosofi “Ya Sudahlah, Terima Nasib”

Kata “menerima” sering menjadi sumber salah paham terbesar tentang Stoikisme. Banyak orang mendengar kalimat “terima apa yang terjadi” lalu membayangkan seseorang duduk diam ketika diperlakukan tidak adil. Padahal, dalam kerangka Stoik, menerima kenyataan berarti mengakui fakta sebelum menentukan tindakan, bukan menganggap semua tindakan terhadap kita otomatis benar. Marcus Aurelius, misalnya, menekankan pentingnya membedakan penilaian yang benar dari kesan yang muncul begitu saja.

Bayangkan seseorang kehilangan pekerjaan. Fakta bahwa dia kehilangan pekerjaan adalah keadaan yang sudah terjadi. Stoikisme tidak mengharuskannya berkata, “Bagus, berarti saya tidak perlu melakukan apa-apa.” Justru setelah menerima fakta tersebut, pertanyaan berikutnya adalah: apa yang masih bisa dilakukan? Memperbaiki CV, mencari pekerjaan lain, belajar keterampilan baru, meminta bantuan jaringan, mengatur keuangan, atau menggugat jika memang terdapat persoalan hukum adalah tindakan yang berbeda dari sekadar mengeluh. Penerimaan terhadap fakta justru menjadi titik awal untuk menentukan respons yang lebih rasional.

Di sini ada perbedaan antara pasrah dan penerimaan. Pasrah berarti berhenti bertindak karena merasa keadaan tidak dapat diubah. Penerimaan berarti berhenti menyangkal kenyataan agar energi dapat diarahkan kepada tindakan yang masih mungkin dilakukan. Secara psikologis, kemampuan mengatur emosi dan melakukan penilaian ulang terhadap situasi juga berkaitan dengan kemampuan menghadapi stres dan membangun resiliensi, meskipun tentu saja temuan psikologi modern tidak membuktikan seluruh sistem Stoikisme secara keseluruhan. Meta-analisis mengenai cognitive reappraisal, misalnya, menemukan hubungan yang cukup konsisten antara strategi penilaian ulang kognitif dan resiliensi.

Jadi, orang Stoik bukan berkata, “Saya tidak bisa mengubah keadaan, jadi saya menyerah.” Kalimatnya lebih dekat kepada, “Saya melihat keadaan sebagaimana adanya, lalu saya cari bagian mana yang masih bisa saya kerjakan.” Itu bukan kelemahan. Itu manajemen energi.

Orang Stoik Tidak Harus Diam Ketika Menghadapi Penindasan

Kalau seseorang diperlakukan tidak adil, apakah Stoikisme menyuruhnya diam? Tidak otomatis. Stoikisme memang menekankan pengendalian respons emosional, tetapi pengendalian emosi tidak sama dengan penghapusan tindakan. Bahkan dalam kerangka Stoik, manusia dipandang sebagai makhluk rasional yang memiliki tanggung jawab untuk bertindak sesuai kebajikan. Marcus Aurelius sendiri menekankan tindakan yang bersifat sosial dan komunal sebagai bagian dari kehidupan manusia yang baik.

Misalnya seseorang mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja. Respons pertama bisa berupa kemarahan, keinginan membalas, atau dorongan untuk membuat masalah menjadi lebih besar. Stoikisme tidak mengatakan bahwa seseorang tidak boleh menyadari ketidakadilan tersebut. Yang dipertanyakan adalah apakah kemarahan itu akan membuat keputusan menjadi lebih efektif atau justru membuat seseorang kehilangan kendali atas tindakannya sendiri. Jika masalah dapat diselesaikan melalui dialog, dokumentasi, mediasi, mekanisme internal, atau jalur hukum yang sah, tindakan tersebut jauh lebih konstruktif daripada membalas secara impulsif.

Di sinilah Stoikisme bisa dibedakan dari sekadar “menahan emosi”. Menahan emosi tanpa memprosesnya bisa menjadi masalah tersendiri. Psikologi modern membedakan berbagai strategi regulasi emosi, termasuk reappraisal, penerimaan, penghindaran, dan penekanan ekspresi; efektivitas strategi bergantung pada konteks dan cara penggunaannya. Artinya, menjadi tenang bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah supaya keadaan emosional tidak otomatis mengambil alih proses pengambilan keputusan.

Orang yang tenang bukan berarti orang yang lemah. Seorang dokter yang menghadapi keadaan darurat harus tetap berpikir ketika orang lain panik. Seorang pengacara harus mampu menyusun argumen ketika pihak lawan mencoba membuat suasana panas. Seorang pemimpin harus dapat mengambil keputusan ketika bawahannya sedang emosional. Ketenangan bukan lawan dari keberanian; dalam banyak situasi, ketenangan justru membuat keberanian dapat digunakan secara lebih terarah.

Dikotomi Kendali Justru Membuat Kita Tidak Mudah Dimainkan

Salah satu inti Stoikisme adalah membedakan apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak. Epictetus memberikan perhatian besar pada penilaian, pilihan, keinginan, dan tindakan sebagai wilayah yang harus dikelola manusia. Sebaliknya, banyak hal eksternal seperti reputasi, kekayaan, kesehatan, atau keputusan orang lain tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Coba lihat dari kehidupan sehari-hari. Kamu mengirim pesan kepada seseorang dan dia tidak membalas selama beberapa jam. Kamu tidak dapat memaksa dia membalas. Tetapi kamu dapat mengendalikan apakah kamu akan mengirim sepuluh pesan tambahan, membuat kesimpulan negatif, memeriksa statusnya setiap lima menit, atau melanjutkan aktivitasmu. Kalau kamu membiarkan perilaku orang lain mengatur seluruh emosimu, sebenarnya orang tersebut bahkan tidak perlu melakukan apa-apa untuk mengendalikan harimu. Cukup tidak membalas pesan.

Contoh ini memang sederhana, tetapi logikanya luas. Orang lain bisa memancing emosi kita melalui komentar, kritik, sindiran, atau perlakuan tertentu. Kalau setiap provokasi langsung menentukan tindakan kita, maka tombol kendali emosi kita seolah berada di tangan orang lain. Stoikisme mencoba menarik tombol tersebut kembali kepada pemiliknya. Bukan berarti kita tidak peduli terhadap keadaan, melainkan kita tidak memberikan hak otomatis kepada keadaan untuk menentukan respons kita.

Dalam psikologi modern, kemampuan regulasi emosi juga dipelajari sebagai bagian dari adaptasi terhadap stres dan resiliensi. Penelitian menunjukkan bahwa fungsi eksekutif seperti inhibisi, fleksibilitas kognitif, dan pembaruan informasi memiliki hubungan dengan berbagai bentuk resiliensi terhadap tekanan. Jadi, kemampuan berhenti sejenak sebelum bereaksi bukan sekadar gaya hidup filosofis.

Dengan kata lain, orang yang tidak mudah dipancing belum tentu lemah; bisa jadi justru dia sedang mempertahankan kendali atas dirinya sendiri. Musuh terbesar bukan selalu orang yang membuat kita marah. Kadang masalahnya adalah kita memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada orang tersebut untuk menentukan tindakan kita.

Marcus Aurelius Bukan Contoh Orang yang Duduk Manis Menunggu Takdir

Nama Marcus Aurelius sering muncul ketika orang membahas Stoikisme. Ia merupakan kaisar Romawi sekaligus salah satu tokoh penting dalam tradisi Stoik melalui karya Meditations. Namun ada satu klaim yang perlu diluruskan: masa pemerintahannya tidak bisa disebut sebagai periode yang sepenuhnya damai dan bebas masalah. Pemerintahannya menghadapi perang, termasuk konflik di perbatasan Kekaisaran Romawi, serta wabah besar yang dikenal sebagai Antonine Plague. Jadi, Marcus bukan contoh manusia yang hidup nyaman karena “menerima semuanya”.

Justru kondisi tersebut membuat contoh Marcus lebih menarik. Dalam filsafatnya, ia terus mengingatkan dirinya mengenai kewajiban, rasionalitas, kehidupan bersama, dan bagaimana merespons keadaan yang tidak sesuai keinginan. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa Marcus memandang kebajikan sebagai pusat kehidupan yang baik dan tidak menjadikan kekayaan, reputasi, kesehatan, atau kondisi eksternal sebagai penentu utama nilai moral seseorang.

Tentu saja, jangan melakukan kesalahan logika dengan mengatakan, “Marcus adalah kaisar, berarti Stoikisme pasti membuat orang kuat.” Itu bukan bukti ilmiah. Jabatan politik, kondisi sejarah, karakter pribadi, dan berbagai faktor lain tidak dapat direduksi menjadi satu filosofi. Marcus juga bukan manusia sempurna yang selalu berhasil menerapkan prinsipnya. Bahkan kajian tentang pemikiran Marcus menunjukkan bahwa ia sendiri masih berhadapan dengan persoalan bagaimana mempertahankan keyakinan moralnya ketika menghadapi tekanan kehidupan.

Tetapi contoh Marcus tetap membantah stereotip sederhana bahwa Stoikisme identik dengan tidak bertindak. Dia memimpin negara, mengambil keputusan, menghadapi konflik, dan menjalankan tanggung jawab politik dalam situasi yang sangat kompleks. Jadi, gambaran Stoik sebagai manusia yang hanya duduk sambil berkata “ya sudah, takdir” jelas terlalu dangkal.

Stoikisme bukan ajaran untuk menghilangkan tindakan. Ia lebih dekat dengan latihan agar tindakan tidak dikendalikan oleh kepanikan.

Tenang Bukan Berarti Takut, dan Tidak Membalas Bukan Berarti Kalah

Ada perbedaan besar antara orang yang tidak melawan karena takut dengan orang yang memilih tidak bereaksi secara impulsif karena memiliki pertimbangan. Dari luar keduanya mungkin terlihat sama-sama diam. Tetapi alasan di balik tindakan tersebut berbeda. Orang pertama mungkin tidak bertindak karena merasa tidak berdaya, sedangkan orang kedua mungkin sedang menghitung konsekuensi dan memilih tindakan yang dianggap lebih efektif. Stoikisme berada lebih dekat pada bentuk kedua: mengarahkan tindakan melalui penilaian, bukan sekadar mengikuti ledakan emosi.

Hal ini penting karena kemarahan sering terasa seperti kekuatan. Ketika seseorang membentak, mengancam, atau membalas dengan keras, lingkungan kadang menganggapnya “berani”. Padahal keberanian dan agresivitas bukan hal yang sama. Seseorang bisa sangat agresif tetapi buruk dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, seseorang dapat berbicara dengan tenang tetapi tetap sangat tegas terhadap batas dan prinsipnya.

Psikologi modern juga tidak mendukung anggapan sederhana bahwa semakin kuat seseorang menekan emosinya, semakin sehat dirinya. Regulasi emosi adalah proses yang lebih kompleks, dan strategi yang berbeda dapat memiliki hasil berbeda tergantung konteks. Tinjauan sistematis mengenai model regulasi emosi menemukan berbagai strategi seperti reappraisal, penerimaan, penghindaran, dan supresi, dengan tujuan dan efektivitas yang tidak selalu sama. Karena itu, Stoikisme tidak seharusnya diterjemahkan menjadi “jangan pernah merasakan marah”.

Yang lebih tepat adalah: rasakan emosinya, tetapi jangan otomatis serahkan kemudi kepadanya. Kamu boleh marah ketika diperlakukan tidak adil. Kamu boleh kecewa ketika dikhianati. Kamu boleh merasa takut ketika menghadapi ancaman. Namun setelah emosi muncul, masih ada pertanyaan penting: “Sekarang saya harus melakukan apa?” Di situlah kekuatan karakter mulai terlihat.

Karena itu, kalimat “You determine your reaction to a crisis” lebih masuk akal jika dipahami sebagai pengingat bahwa respons kita membutuhkan pilihan dan penilaian. Krisis memang tidak selalu dapat kita pilih. Tetapi respons terhadap krisis sering masih memiliki ruang untuk dipertimbangkan.

Stoikisme Tidak Membuat Kita Pasif, tetapi Salah Memahaminya Bisa

Kritik terhadap Stoikisme tetap layak dibicarakan. Jika seseorang memahami “fokus pada hal yang bisa dikontrol” sebagai alasan untuk mengabaikan semua persoalan eksternal, filosofi ini memang dapat berubah menjadi sikap apatis. Kalau seseorang melihat kemiskinan, ketidakadilan, konflik, atau perlakuan buruk lalu berkata, “Itu di luar kendaliku,” kemudian tidak melakukan apa pun yang sebenarnya bisa dilakukan, masalahnya bukan lagi ketenangan. Itu sudah menjadi salah penerapan prinsip. Dikotomi kendali seharusnya membantu manusia menentukan ruang tindakan, bukan mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab.

Bahkan dalam Stoikisme sendiri, kebajikan bukan sekadar ketenangan pribadi. Tradisi Stoik memiliki perhatian terhadap keadilan, relasi sosial, dan manusia sebagai bagian dari komunitas. Marcus Aurelius, misalnya, berkali-kali menekankan tindakan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama. Jadi, Stoikisme yang matang bukan “saya tidak peduli dunia”, melainkan “saya akan melakukan bagian saya tanpa menganggap saya mengendalikan seluruh dunia”.

Contoh paling sederhana kembali kepada hubungan personal. Gebetan belum membalas pesan bukan berarti kamu harus membuat skenario bahwa dia membenci kamu. Kamu juga tidak harus mengirim pesan berkali-kali hanya untuk memaksa kepastian. Kamu dapat melanjutkan aktivitas, memberi ruang, lalu menilai hubungan berdasarkan pola perilaku nyata. Kalau akhirnya dia memang tidak tertarik, kamu mungkin kecewa, tetapi kamu tidak kehilangan kendali atas dirimu hanya karena seseorang tidak memberikan respons yang kamu inginkan.

Begitu pula dalam pekerjaan, organisasi, politik, keluarga, atau pertemanan. Kamu tidak bisa mengendalikan semua opini orang, tetapi kamu bisa menjaga kualitas pekerjaan. Kamu tidak bisa mengendalikan semua keputusan atasan, tetapi kamu bisa menyampaikan keberatan secara profesional. Kamu tidak bisa mengendalikan apakah seseorang menyukaimu, tetapi kamu bisa menjaga perilaku dan integritas.

Stoikisme yang sehat bukan membuat manusia menjadi karpet yang diinjak keadaan. Ia mengajarkan manusia memilih kapan harus menerima, kapan harus bertindak, dan bagaimana bertindak tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Kekuatan Sejati Bukan Tidak Pernah Ditindas, tetapi Tidak Kehilangan Diri Saat Ditekan

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah Stoikisme membuat orang lemah dan mudah ditindas?” tidak bisa dijawab dengan mengatakan bahwa semua orang yang menerapkan Stoikisme otomatis menjadi kuat. Filosofi apa pun dapat disalahpahami. Tetapi secara prinsip, Stoikisme tidak mengajarkan bahwa manusia harus menyerahkan dirinya kepada keadaan. Ia justru mengajarkan pengelolaan penilaian, keinginan, tindakan, dan respons terhadap keadaan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali.

Kekuatan yang ditawarkan Stoikisme bukan kekuatan untuk mengendalikan semua orang. Justru sebaliknya, kekuatan itu muncul ketika kita berhenti berusaha mengendalikan hal-hal yang memang bukan milik kita. Kamu tidak bisa memaksa orang menyukaimu. Kamu tidak bisa membuat semua orang menghargaimu. Kamu tidak bisa memastikan tidak ada orang yang meremehkanmu. Tetapi kamu dapat menentukan apakah penilaian mereka akan membuatmu kehilangan prinsip, mengubah tindakanmu secara impulsif, atau menghancurkan fokus hidupmu.

Penelitian psikologi modern memberi alasan untuk menganggap kemampuan regulasi emosi dan penilaian ulang kognitif sebagai hal yang relevan terhadap resiliensi, meskipun sekali lagi hal tersebut bukan bukti bahwa seluruh ajaran Stoik telah terbukti secara ilmiah. Yang bisa dikatakan dengan lebih hati-hati adalah bahwa beberapa prinsip praktis Stoik memiliki kemiripan dengan mekanisme psikologis modern yang berkaitan dengan regulasi emosi, fleksibilitas kognitif, dan kemampuan menghadapi tekanan.

Jadi, ketika menghadapi penindasan, Stoikisme tidak harus berkata, “Diam saja.” Ia dapat berkata: “Jangan biarkan kemarahan menentukan strategimu.” Kumpulkan fakta. Tentukan batas. Cari bantuan. Gunakan jalur yang tersedia. Bicara ketika perlu. Pergi ketika memang harus pergi. Dan jika ada mekanisme hukum atau institusional yang sah, gunakan mekanisme tersebut.

Karena mungkin kelemahan terbesar manusia bukan ketika orang lain mencoba menjatuhkannya. Kelemahan terbesar justru ketika seseorang berhasil membuat kita kehilangan kendali atas pikiran dan tindakan sendiri. Stoikisme tidak menjanjikan bahwa hidup akan berhenti menekan kita. Ia menawarkan latihan agar ketika tekanan datang, kita tidak ikut runtuh bersama tekanan itu.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *