Budaya “Ikut Saja yang Lain”: Apakah Ini yang Membuat Indonesia Sulit Maju?

Apa “Penyakit” yang Bikin Indonesia Sulit Maju? Bukan Budaya Kolektifnya, tapi Ketika “Yang Penting Rukun” Mengalahkan Keberanian Berpikir

Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika kita membandingkan Indonesia dengan negara-negara yang memiliki tingkat inovasi tinggi: apakah budaya kolektif membuat masyarakat sulit maju?

Jawabannya tidak sesederhana “iya”. Individualisme memang dalam sejumlah penelitian berkorelasi dengan inovasi, tetapi penelitian lintas budaya juga menunjukkan bahwa hubungan antara budaya dan kreativitas jauh lebih kompleks. Bahkan, kolektivisme memiliki sisi positif dalam membangun kerja sama, adaptasi, dan keterhubungan sosial. (ScienceDirect)

Jadi, mungkin masalahnya bukan karena orang Indonesia terlalu suka hidup bersama. Masalahnya muncul ketika solidaritas berubah menjadi konformitas, harmoni berubah menjadi ketakutan berbeda, dan menghormati kelompok berubah menjadi larangan berpikir mandiri.

Kita tidak perlu membuang gotong royong untuk menjadi maju. Yang perlu dibuang adalah kebiasaan menganggap bahwa sesuatu pasti benar hanya karena “dari dulu memang begitu.”

Budaya Kolektif Tidak Salah, yang Berbahaya adalah Ketika Semua Harus Seragam

Budaya kolektif sebenarnya bukan penyakit. Dalam masyarakat kolektif, seseorang cenderung melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan keluarga, komunitas, organisasi, dan kelompok sosial. Nilai seperti gotong royong, kepedulian, solidaritas, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosial dapat menjadi kekuatan besar. Dalam banyak situasi, masyarakat yang saling membantu justru memiliki modal sosial yang kuat untuk menghadapi krisis.

Masalahnya muncul ketika kolektivisme tidak lagi berarti bekerja bersama, tetapi berarti harus berpikir sama. Kalimat seperti “jangan beda sendiri”, “ikut saja yang lain”, atau “nanti orang ngomong apa?” terdengar sederhana, tetapi jika terus-menerus menjadi standar kehidupan, seseorang dapat belajar bahwa keamanan sosial lebih penting daripada kejujuran intelektual. Akhirnya, orang bukan bertanya apakah sebuah gagasan benar, melainkan apakah gagasan itu akan membuat dirinya diterima kelompok.

Di titik ini, kita perlu membedakan interdependensi dengan konformitas. Interdependensi berarti kita sadar bahwa hidup membutuhkan orang lain, tetapi tetap mampu berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri. Konformitas berarti kita menyesuaikan diri terutama karena tekanan sosial, bahkan ketika sebenarnya kita memiliki alasan untuk berbeda.

Penelitian lintas budaya memang menemukan hubungan antara individualisme dan beberapa bentuk inovasi, tetapi temuan tersebut tidak berarti individualisme otomatis menghasilkan kemajuan. Kajian mengenai budaya dan kreativitas menunjukkan bahwa budaya memengaruhi cara orang menghasilkan dan menilai ide, sementara hasil penelitian secara keseluruhan tetap beragam. (Frontiers)

Jadi persoalannya bukan “Indonesia terlalu kolektif.”

Persoalannya adalah:

Apakah kita bisa tetap kompak tanpa harus menjadi seragam?

“Kok Beda Sendiri?” Bisa Menjadi Kalimat Kecil dengan Dampak Besar

Bayangkan seorang anak sekolah bertanya terlalu banyak kepada gurunya. Bukannya pertanyaannya dibahas, ia malah dianggap merepotkan. Ada siswa yang memiliki gagasan berbeda dari mayoritas, lalu teman-temannya mengatakan bahwa dia aneh. Ada anak yang memilih jalur pendidikan berbeda dari keluarganya, kemudian harus mendengar kalimat klasik: “Kenapa nggak seperti anak yang lain?”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin tidak selalu dimaksudkan untuk membatasi seseorang. Sering kali justru lahir dari niat menjaga anak, mempertahankan norma, atau menghindari risiko. Namun jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang dapat belajar satu pesan tersembunyi: berbeda itu berbahaya.

Padahal kreativitas membutuhkan ruang untuk mencoba kemungkinan yang belum tentu populer. Inovasi juga membutuhkan kemampuan mempertanyakan asumsi lama. Penelitian tentang budaya dan kreativitas menunjukkan bahwa individualisme dan kolektivisme dapat berkaitan dengan jenis kreativitas yang berbeda; beberapa temuan bahkan menunjukkan kolektivisme lebih mendukung kreativitas adaptif, sementara individualisme lebih berkaitan dengan kreativitas inovatif atau boundary-breaking. (Frontiers)

Artinya, masyarakat kolektif sebenarnya tidak kekurangan kreativitas.

Yang bisa menjadi masalah adalah saluran ekspresinya.

Orang mungkin punya ide, tetapi tidak berani menyampaikan. Orang mungkin melihat masalah, tetapi takut dianggap sok tahu. Orang mungkin menemukan cara baru, tetapi memilih diam karena cara lama sudah diterima semua orang.

Di sinilah kita harus berhenti menganggap kritik sebagai bentuk ketidaksetiaan.

Seseorang yang bertanya “Kenapa kita melakukan ini?” belum tentu sedang melawan.

Bisa jadi dia sedang mencoba memahami.

Dan seseorang yang mengatakan “Saya punya cara lain” belum tentu sombong.

Bisa jadi dia sedang menawarkan kemungkinan yang belum pernah dicoba.

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat tanpa perbedaan.

Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu mengelola perbedaan tanpa menghukum orang hanya karena berbeda.

“Yang Penting Rukun” Bagus, Tapi Jangan Sampai Membuat Kita Takut Mengoreksi Kesalahan

Kerukunan adalah nilai penting. Tidak ada masyarakat yang dapat berjalan jika setiap perbedaan langsung berubah menjadi permusuhan. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: rukun untuk apa?

Kalau kerukunan berarti saling menghormati meskipun berbeda, itu sehat. Kalau kerukunan berarti tidak boleh mengkritik sesuatu yang salah karena takut suasana menjadi tidak nyaman, itu masalah. Sebab sebuah kelompok bisa terlihat sangat harmonis dari luar, tetapi sebenarnya sedang menyimpan masalah yang tidak pernah dibicarakan.

Dalam organisasi, misalnya, seorang anggota melihat sistem kerja yang tidak efektif. Namun karena semua orang sudah terbiasa dengan sistem tersebut, dia memilih diam. Akhirnya kesalahan yang sama diulang bertahun-tahun. Tidak ada konflik, memang. Tetapi tidak ada perbaikan juga.

Inilah paradoksnya: kadang-kadang terlalu takut terhadap konflik justru membuat masalah menjadi lebih besar.

Inovasi membutuhkan ruang untuk melakukan kritik dan eksperimen. Penelitian lintas negara menemukan hubungan positif antara individualisme dan inovasi dalam sejumlah dataset, tetapi penelitian lain juga menunjukkan hasil yang tidak sepenuhnya konsisten. Bahkan beberapa bentuk kolektivisme dapat mendukung inovasi tertentu. (ScienceDirect)

Karena itu, kita tidak perlu mengganti “gotong royong” dengan “semua urus sendiri”.

Yang lebih penting adalah membangun budaya:

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap satu tujuan.”

Bayangkan kalau rapat tidak diukur dari seberapa cepat semua orang sepakat, tetapi dari seberapa baik masalah telah diperiksa. Bayangkan jika seorang bawahan boleh mengatakan bahwa strategi atasannya memiliki kelemahan tanpa otomatis dianggap tidak loyal. Bayangkan jika mahasiswa dapat mengkritik dosen dengan argumen tanpa dianggap tidak sopan.

Itulah bentuk kolektivisme yang lebih dewasa.

Bukan “ikut gue karena kita satu kelompok.”

Tetapi:

“Mari kita berpikir bersama, lalu pilih gagasan yang paling masuk akal.”

Kita Tidak Perlu Menjadi Individualis Ekstrem untuk Menjadi Kreatif

Ada kesalahpahaman yang perlu dibereskan: kalau individualisme dianggap membantu inovasi, berarti solusi Indonesia adalah menjadi masyarakat yang egois. Tentu tidak. Individualisme dalam kajian sosial bukan sekadar “mementingkan diri sendiri”; salah satu dimensinya berkaitan dengan otonomi, independensi, dan cara seseorang memahami dirinya sebagai individu.

Sebaliknya, kolektivisme bukan sekadar “suka gotong royong”. Ia berkaitan dengan interdependensi dan penekanan terhadap tujuan serta kepentingan kelompok. Karena itu, membandingkan keduanya sebagai baik versus buruk justru terlalu sederhana. Literatur mengenai budaya dan inovasi menunjukkan hubungan tersebut dipengaruhi banyak faktor lain, termasuk struktur organisasi, toleransi terhadap ketidakpastian, hierarki, dan lingkungan yang memungkinkan ide berkembang. (ScienceDirect)

Bayangkan sebuah tim sepak bola.

Kalau semua pemain hanya mengejar statistik pribadi, tim bisa kacau. Tetapi kalau semua pemain takut menunjukkan kemampuan individual karena harus selalu terlihat sama, tim juga tidak akan maksimal. Tim hebat justru membutuhkan pemain dengan kemampuan berbeda yang mampu bekerja menuju tujuan bersama.

Begitu pula masyarakat.

Kita membutuhkan individualitas tanpa egoisme dan kolektivitas tanpa konformitas.

Anak muda harus boleh punya cita-cita berbeda. Peneliti harus boleh mempertanyakan teori lama. Pengusaha harus boleh mencoba model bisnis baru. Seniman harus boleh membuat karya yang tidak mengikuti selera mayoritas. Mahasiswa harus boleh mempertanyakan gagasan yang diterimanya selama ia mampu menyampaikannya secara argumentatif.

Pada saat yang sama, semua kebebasan tersebut tetap membutuhkan tanggung jawab sosial.

Jadi targetnya bukan menjadi “Barat”.

Targetnya adalah menjadi masyarakat yang cukup percaya diri untuk berbeda dan cukup dewasa untuk tetap bekerja bersama.

Itu jauh lebih sulit daripada sekadar memilih individualisme atau kolektivisme.

Tapi justru di situlah kedewasaan sosial dimulai.

Masalah Besarnya Bukan Cuma Budaya, tetapi Institusi yang Menghargai Kepatuhan daripada Inisiatif

Kalau kita ingin membicarakan mengapa sebuah negara kurang inovatif, jangan terlalu cepat menyalahkan karakter masyarakatnya. Negara tidak hanya dibangun oleh budaya, tetapi juga oleh institusi, pendidikan, ekonomi, hukum, kualitas organisasi, akses terhadap modal, infrastruktur penelitian, dan kesempatan untuk bereksperimen.

Seseorang mungkin sangat kreatif secara pribadi, tetapi kalau tempat kerjanya menghukum setiap kesalahan kecil, ia akan belajar bermain aman. Seorang mahasiswa mungkin punya gagasan luar biasa, tetapi jika lingkungan akademiknya tidak memberikan ruang berdiskusi, gagasan itu bisa berhenti di buku catatan. Seorang pengusaha mungkin berani mengambil risiko, tetapi jika biaya kegagalannya terlalu besar, keberanian tersebut tidak otomatis berubah menjadi inovasi.

Inilah alasan kita harus hati-hati menggunakan istilah “budaya kolektif” sebagai penjelasan tunggal.

Beberapa penelitian memang menemukan bahwa individualisme berhubungan dengan inovasi pada tingkat perusahaan maupun negara. Namun penelitian lain menunjukkan bahwa hubungan budaya dan inovasi dapat berubah tergantung jenis inovasi dan konteks organisasinya. Bahkan ada penelitian yang menemukan bahwa faktor struktural lebih mampu menjelaskan variasi inovasi regional daripada sekadar dimensi budaya. (ScienceDirect)

Jadi kalau kita ingin Indonesia lebih inovatif, jangan hanya mengatakan:

“Anak mudanya harus lebih berani.”

Tanyakan juga:

“Apakah sistem kita memberikan ruang bagi mereka untuk berani?”

Apakah kegagalan pertama langsung menjadi stigma?

Apakah orang yang berbeda pendapat diberi ruang?

Apakah organisasi memberikan penghargaan kepada orang yang menemukan solusi baru?

Apakah sekolah mengajarkan murid untuk menghafal jawaban atau memahami cara menemukan jawaban?

Karena keberanian individu membutuhkan lingkungan yang memungkinkan keberanian tersebut menghasilkan sesuatu.

Kalau tidak, kita hanya menyuruh orang berlari di dalam ruangan.

Dari “Takut Diomongin Orang” Menuju “Berani Mempertanggungjawabkan Pilihan”

Salah satu bentuk tekanan sosial yang paling kuat dalam kehidupan sehari-hari adalah ketakutan terhadap penilaian orang lain. Kita memilih pekerjaan karena keluarga menganggapnya bergengsi. Kita membeli sesuatu karena ingin terlihat berhasil. Kita memilih jurusan karena teman-teman masuk ke sana. Bahkan terkadang kita menolak peluang bukan karena peluang tersebut buruk, tetapi karena takut orang lain mengatakan sesuatu.

Di sinilah kemampuan menjadi individu yang mandiri sangat penting.

Mandiri bukan berarti tidak mendengarkan siapa pun. Justru orang yang mandiri mampu mendengar banyak perspektif tanpa menyerahkan seluruh keputusan kepada perspektif orang lain. Ia bertanya: “Apa alasanku memilih ini?”, “Apa konsekuensinya?”, dan “Apakah keputusan ini sesuai dengan nilai serta kemampuan yang sedang saya bangun?”

Kemampuan tersebut sangat penting bagi anak muda karena kehidupan modern memberikan terlalu banyak pilihan. Media sosial membuat kita terus-menerus melihat pencapaian orang lain. Akibatnya, kehidupan pribadi mudah berubah menjadi perlombaan yang sebenarnya tidak pernah kita sepakati.

Kita tidak perlu mengejar kehidupan orang lain.

Yang perlu dikejar adalah kapasitas diri sendiri.

Berani berbeda juga tidak sama dengan sengaja mencari perhatian. Kalau seseorang memilih jalan berbeda hanya untuk terlihat unik, itu bukan kemandirian; itu bisa saja bentuk lain dari ketergantungan terhadap validasi sosial.

Kemandirian yang sehat jauh lebih sederhana:

“Saya punya alasan. Saya sudah mempertimbangkan risikonya. Saya bersedia bertanggung jawab atas pilihan saya.”

Pada titik ini, individualitas justru bertemu dengan etika.

Kita bebas menjadi diri sendiri, tetapi kebebasan tersebut tidak menghapus tanggung jawab terhadap orang lain.

Maka masyarakat yang maju bukan masyarakat yang setiap orangnya berkata, “Gue bebas melakukan apa saja.”

Melainkan masyarakat yang mampu berkata:

“Gue boleh berbeda, tapi gue juga siap mempertanggungjawabkan pilihan gue.”

Indonesia Tidak Butuh Lebih Individualis atau Lebih Kolektif Kita Butuh Lebih Dewasa

Jadi, apakah budaya kolektif adalah “penyakit” yang membuat Indonesia tidak maju? Tidak tepat jika disimpulkan seperti itu. Bukti ilmiah menunjukkan hubungan antara individualisme, kolektivisme, kreativitas, dan inovasi memang ada dalam sejumlah penelitian, tetapi tidak sesederhana hubungan sebab-akibat tunggal. Beberapa bentuk individualisme dapat mendukung kebaruan dan keberanian mengambil risiko, sementara kolektivisme dapat mendukung kerja sama, adaptasi, dan tujuan bersama. (Frontiers)

Masalah sebenarnya mungkin berada pada versi ekstrem dari keduanya.

Kolektivisme ekstrem dapat berubah menjadi konformitas: semua harus sama, kritik dianggap ancaman, perbedaan dianggap masalah. Individualisme ekstrem juga dapat berubah menjadi egoisme: semua keputusan hanya diukur berdasarkan kepentingan pribadi dan hubungan sosial dianggap sebagai hambatan.

Indonesia tidak membutuhkan salah satunya.

Kita membutuhkan individu yang kuat di dalam masyarakat yang kuat.

Orang boleh punya gagasan sendiri, tetapi tetap mampu bekerja bersama. Anak muda boleh mengejar karier, tetapi tidak harus merendahkan pilihan hidup orang lain. Peneliti boleh menggugat teori lama, tetapi harus menggunakan bukti. Pengusaha boleh mengambil risiko, tetapi memahami konsekuensinya. Pemimpin boleh memiliki visi berbeda, tetapi tetap membuka ruang kritik.

Gotong royong tidak harus mati agar inovasi hidup.

Justru kita bisa membuat gotong royong naik level: bukan hanya gotong royong mengangkat barang, tetapi gotong royong memecahkan masalah.

Bukan hanya bersama-sama bekerja, tetapi bersama-sama berpikir.

Bukan hanya menjaga kerukunan, tetapi menjaga agar perbedaan tetap bisa dibicarakan secara sehat.

Dan mungkin inilah perubahan mindset yang lebih penting daripada sekadar menyalahkan “budaya Indonesia”.

Kita tidak perlu malu menjadi masyarakat kolektif.

Yang perlu kita tinggalkan adalah kebiasaan berpikir:

“Kalau semua orang melakukannya, berarti pasti benar.”

Karena kemajuan hampir selalu dimulai dari seseorang yang berani bertanya:

“Sebentar. Memangnya harus selalu seperti ini?”

Lalu ia tidak berhenti pada pertanyaan.

Ia mencari data, menguji gagasan, mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi.

Itulah budaya yang seharusnya kita bangun: tetap gotong royong, tetapi tidak takut berbeda; tetap punya solidaritas, tetapi tidak kehilangan nalar; tetap menghormati tradisi, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk berhenti berkembang.

Dan kalau Indonesia ingin maju, mungkin yang harus kita lawan bukan budaya kolektifnya.

Yang harus kita lawan adalah kemalasan untuk berpikir.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *